L U K A




Memutuskan untuk hidup sendiri tidaklah mudah, bersama dengan keraguan dan sisa-sisa luka dimasa lalu. Impian itu tetap ada, ingin merasakan kebahagiaan, kebahagiaan yang sejatinya bersama dia yang terkasih. Namun, masihkah kau bisa percaya kepada mereka yang tidak pernah memahami arti sebuah hubungan, mereka yang tidak pernah sanggup bertahan dalam komitmen, mereka yang egois dan tamak akan kebahagiaan, kebahagiaan untuk diri sendiri.

Berharap itu seperti menabung kekecewaan, yang sekeping demi sekeping akan menghancurkanmu. Saat semua masih terasa indah, kau akan buta. Buta yang bahkan lebih parah dari tidak melihat, karena hatimu pun akan buta. Kebutaanmu juga akan bersahabat dengan ketulianmu, karena kau pun akan tuli, kau tidak akan pernah ingin mendengarkan, bahkan hati kecilmu sendiri. Kau hanya akan membenarkan isi pikiranmu tanpa mengindahkan logika dan bergumul dalam perasaan sesaat. Sampai akhirnya kau akan terhempas, membunuh dirimu sendiri, seketika kau tersadar harapan itu telah berhasil membunuhmu.

Tidak kah itu menyakitkan? Kenyataan yang lebih menyakitkan lagi adalah, dirimu sendirilah yang menyakitimu. Dan apa yang terjadi setelahnya? Penyesalan yang berteman dengan kehancuran. Hidup itu akan selalu memberikan luka, namun sebelum luka itu datang, ia sudah terlebih dahulu menunjukkan wujudnya. Tapi terkadang mata dan pikirian kita dibutakan oleh harapan yang seolah-olah mampu menyingkirkan luka itu.

        Goresan-goresan Luka itu tidak akan pernah sembuh karena luka yang berikutnya sedang menantimu. Bersama dengan kebodohan yang mengagung-agungkan cinta tanpa campur tangan logika. Hatimu akan menjadi tong sampah luka yang kau terima dari mereka. Adilkah? Tentu tidak, berilah keadalin pada hatimu, pada hidupmu agar luka itu tidak lagi menjadi luka tapi menjadi goresan luka yang sedang menuju kesembuhan.

            Pulihlah bersama harapan yang baik, kesendirianmu akan memberi kesempatan pada hatimu untuk menerima bahwa kebahagiaanmu adalah dirimu bukan orang lain. Hiduplah bersama sebaik-baiknya hidup, terimalah bahwa luka itu pernah ada tapi tidak akan pernah benar-benar menjadi luka. Karena ia akan menjadi obat untuk membentuk ketegaran hatimu. Ketahuilah, dirimu yang akan menjadi penentu kebahagiaanmu, bukan orang lain.


             Menarilah bersama air matamu, bukankah menari ditengah hujan itu menyenangkan? Meski terasa dingin, tapi itu jauh lebih baik daripada menikmati hujan dari balik jendela, yang hanya akan menarik memori lama. Tertawalah bersama kebodohanmu, karena terkadang saat itulah kau menyadari betapa itu adalah sebuah kebodohan.
L U K A L U K A Reviewed by slazhpardede on May 30, 2016 Rating: 5