Ketika Rindu Tak Jua Membawamu Kembali, Maka Aku Yang Seharusnya Pergi


Tak ada kata yang mampu terucap ketika rindu juga tak kunjung meredam. Terpenjara dalam sebuah rasa yang selalu memberi asa. Hari itu akan segera tiba, hari dimana kita akan bersua. Sementara hati berusaha tabah melawan waktu yang terkadang seakan berhenti. Seolah menertawakan hati yang sedang dilanda kerinduan.


Menanti dalam diam, meredam semua kemunafikan. Akankah ia kembali? Hati selalu saja bergumam, bagaimana jika ia tak akan kembali? Dalam setiap penantian, akan selalu ada kekecewaan. Tak ada yang mampu menjanjikan, hanya harapan yang selalu menguatkan. Ia akan datang!

Mungkin inilah salah satu keajaiban sebuah rasa yang bernamakan cinta. Ia begitu kuat hingga merelakan diri dalam sebuah penantian. Cinta begitu ahli memberi harapan bagi para pecintanya. Terlepas dari harapan itu hanyalah semu, tetap saja harapan itu memberikan secuil kebahagiaan.

Penantian adalah sesuatu yang memberi harapan tetapi juga menawarkan kekecewaan, sesuatu yang menggembirakan tetapi juga sangat melelahkan.

Ketika rindu tak jua membawamu kembali, maka aku yang seharusnya pergi. Mungkin memang sudah seharusnya pergi. Ketika penantian tak kunjung menepi, aku memang harus pergi. Ketika kuatku tak lagi tentang menanti, dan lemahku pun mengingatkanku tentang sebuah rasa yang ku sebut rindu.

Berpisah tanpa kata adalah luka yang tak nyata namun memberi duka sepanjang masa. Saat hati masih meyakini bahwa ia akan kembali, logika seakan menegaskan bahwa aku telah dibodohi. Menentang logika namun rasa terlalu perih, menentang rasa namun logika memberi kebenarannya sendiri. Pada akhirnya hati yang harus memilih. Cinta memang memiliki kekuatannya sendiri. Bertahan dalam kesakitan, menunggu dalam ketidakpastian, dan melepas dalam ketidakikhlasan.

Ketika Rindu Tak Jua Membawamu Kembali, Maka Aku Yang Seharusnya Pergi Ketika Rindu Tak Jua Membawamu Kembali, Maka Aku Yang Seharusnya Pergi Reviewed by slazhpardede on December 08, 2016 Rating: 5